Lahan Kakao Aceh Berpotensi Organik

Aceh merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia. Berdasarkan data statistik perkebunan Regional Investment pada tahun 2008-2010 areal produktif kakao Aceh mencapai 74.546 ha dari 258.067 ha yang belum dimanfaatkan dengan kapasitas produksi mencapai 27.295 ton/tahun.

Wilayah sentral produksi kakao Aceh terdapat di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tenggara. Kondisi ini tidak di imbangi dengan kualitas dan produktifitas kakao Aceh yang masih sangat rendah sehingga sangat diperlukan suatu pengembangan tehnologi dan penerapan budidaya kakao secara baik. Apalagi pasca konflik yang berkepanjangan, banyak lahan kakao petani yang tidak terawat dan dibiarkan terlantar.


Selama konflik berkepanjangan di Aceh, petani kakao Aceh yang bergantung mata pencaharian di kakao tidak bisa ke kebun dan terpaksa beralih profesi lain bahkan sebagiannya banyak yang pindah ke kota lain untuk menghindari konfik.

Lahan kakao yang tidak terawat dan terlantar telah menjadi hutan kakao dan tidak pernah di panen. Kondisi ini secara tidak langsung telah menyebabkan lahan kakao menjadi organik dengan sendirinya. Setelah penandatangan kesepakatan MoU Aceh merupakan akhir dari konflik yang berkepanjangan di Aceh. Petani kakao sudah bisa ke kebun dan merawat kakaonya kembali. Secara umum petani kakao di Aceh tidak lagi menggunakan bahan kimia terutama pestisida an organik. Kebanyakan petani kakao yang ditanya mengatakan bahwa mereka hanya menggunakan herbisida untuk menangani hama rumput itupun pada waktu tanaman kakao masih kecil. Setelah mencapai masa produktif mereka tidak lagi menggunakan herbisida.

Sesuai dengan standar organik suatu produk akan dinyatakan organik bila dari masa 3 tahun terakhir dan setelahnya tidak lagi menggunakan bahan kimia. Dengan kondisi petani kakao Aceh yang hanya menggunakan herbisida pada saat tanaman kakao masih kecil memungkinkan untuk diterapkannya budidaya kakao secara organik sehingga kualitas dan produktifitas kakao Aceh bisa lebih baik.
Semoga.

1 komentar:

tik tok mengatakan...

di SUMBAR juga meningkat tapi sayang pabrik pengolahan belum sebanding dgn bahan baku yang tersedia,mungkin perlu investor lagi untuk meningkatkan hasil cacao di daerah sumbar.

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan dan Komentar Sobat.
Salam Blogger.